AKSARA SUNDA MATI KALAU HANYA DIHAFAL, HIDUP KALAU DIPAKAI MENULIS

Table of Contents

Aksara Sunda baku diajarkan di banyak sekolah Jawa Barat, tapi hasilnya sering nihil. Siswa bisa menyebut "ᮊ" dibaca ka, tapi bingung saat diminta menulis kata "sekolah". Masalahnya bukan di aksaranya yang rumit, tapi di cara mengajar yang berhenti di hafalan.

Kurikulum lama memperlakukan aksara Sunda seperti pelajaran sejarah. 32 huruf ngalagena dipaksa dihafal dalam seminggu, lalu selesai. Tidak ada latihan menulis nama sendiri, tidak ada proyek membuat poster, tidak ada ruang untuk salah dan memperbaiki. Padahal manusia belajar menulis dengan menulis, bukan dengan menghafal.

Solusinya sederhana: ubah fokus dari menghafal ke praktik yang relevan. Kurikulum yang bekerja memecah proses belajar jadi 4 tahap singkat.

*Pertama, kuasai 18 aksara ngalagena lewat motorik tangan.* Siswa menebalkan pola titik, lalu menulis nama sendiri. Dalam 5 hari, targetnya mereka bisa menulis "Budi" jadi ᮘᮥᮓᮤ. Rasa "bisa" ini jadi bahan bakar motivasi.

*Kedua, tambah tanda vokal dan langsung praktik.* Setelah bisa menulis "ba", "bi", "bu", siswa belajar mengubah "sekolah" jadi ᮞᮨᮊᮧᮜᮂ. Langsung pakai untuk membaca nama jalan dan makanan di sekitar mereka.

*Ketiga, masuk ke aturan penulisan kalimat pendek.* Siswa menyalin paragraf cerita Sunda, lalu menulis ulang dengan tangan. Kesalahan dibahas bersama, bukan dihukum.

*Keempat, buat proyek akhir yang dipublikasikan.* Buat poster kutipan, kartu ucapan, atau komik singkat pakai aksara Sunda. Ketika tulisan dibaca orang lain, motivasinya naik berkali lipat.

Teknologi mempermudah proses ini. Font Aksara Sunda Unicode sudah ada di HP, aplikasi Kaganga bisa mengoreksi tulisan otomatis. Guru tidak perlu jadi satu-satunya sumber, cukup jadi pembimbing.

Melestarikan aksara bukan tentang mengulang masa lalu. Ini tentang memberi generasi sekarang alat baru untuk mengekspresikan diri.

JURNALIS: DENIINDO

Posting Komentar

Iklan