SIAPA PENEMU BBM BOBIBOS DAN BAGAIMANA PROSES PEMBUATANNYA ?

Table of Contents

DENIINDO BOGOR --- BBM Bobibos resmi diperkenalkan di Jonggol, Bogor pada Selasa (11/11/2025). Diklaim bisa hasilkan pembakaran lebih bersih & efisien daripada BBM fosil.
Bobibos diklaim bisa menghasilkan pembakaran lebih bersih dan efisien daripada BBM fosil. Lantas, siapa penemu Bobibos? BBM Bobibos terbuat dari apa?

Dikembangkan sejak 2007, BBM Bobibos merupakan inovasi energi yang memanfaatkan tanaman sebagai bahan baku utama. Tanaman yang digunakan mudah ditemukan di area persawahan tanpa perlu penanaman khusus.
Melalui proses pengolahan tertentu, bahan alami itu diubah menjadi biofuel yang siap digunakan untuk mesin bensin maupun diesel.

Proses riset dan uji coba Bobibos dilakukan selama bertahun-tahun hingga mencapai standar kualitas laboratorium nasional. Dari hasil pengujian, bahan bakar ini memiliki tingkat oktan yang mendekati RON 98 serta emisi yang jauh lebih rendah dibanding solar konvensional.

Meski telah diluncurkan, distribusi Bobibos masih menunggu izin produksi massal dari pemerintah. Saat ini, tim pengembang tengah berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memenuhi regulasi dan tahap sertifikasi.
Bagaimana Proses Pembuatan Bobibos?
Bahan baku Bobibos adalah jerami padi, limbah pertanian yang selama ini kerap dibakar setelah masa panen. Di Indonesia, jumlah jerami cukup melimpah mencapai lebih dari 50 juta ton per tahun.

M. Ikhlas Thamrin dan timnya di PT Inti Sinergi Formula menjadi penemu Bobibos sekaligus pengembang bahan baku berbahan dasar tanam (biofuel) tersebut.

Proses pembuatan Bobibos dari jerami dimulai dengan pengumpulan dan pengeringan bahan pokok. Jerami dikumpulkan langsung dari lahan petani, lalu dijemur hingga kadar airnya berada di bawah 10 persen. Proses ini penting untuk memastikan struktur serat tanaman siap diolah tanpa menghambat proses berikutnya.

Selanjutnya, jerami dimasukkan ke mesin ekstraktor untuk proses pemecahan struktur organik. Pada tahap ini, enzim biokimia dan serum khusus disuntikkan guna memecah selulosa menjadi gula sederhana. Tahap tersebut merupakan inti dari transformasi jerami menjadi bahan baku bioenergi.

Gula hasil pemecahan kemudian melalui tahap fermentasi biokimia di dalam tangki anaerobik tertutup. Proses fermentasi ini berlangsung selama 48 hingga 72 jam dengan bantuan bakteri khusus. Dari tahap ini dihasilkan etanol selulosa generasi kedua atau cellulosic ethanol, bahan utama dalam Bobibos.

Etanol mentah yang diperoleh kemudian dimurnikan melalui proses penyaringan dan distilasi. Pemurnian dilakukan menggunakan teknologi reverse osmosis untuk mencapai kadar kemurnian di atas 99 persen. Tahapan ini juga bertujuan menghilangkan sisa air dan senyawa yang berpotensi menurunkan kualitas bahan bakar.

Setelah proses pemurnian selesai, bahan bakar dicampur dengan aditif nabati agar setara dengan RON 98. Aditif ini meningkatkan performa pembakaran tanpa menambah kandungan emisi karbon. Dari proses tersebut, lahirlah dua varian Bobibos, yakni bahan bakar untuk mesin bensin dan solar.

Produk akhir kemudian menjalani tahap pengujian di laboratorium independen sesuai dengan standar SNI. Pengujian meliputi uji oktan, kestabilan, dan efisiensi pembakaran untuk memastikan kualitasnya memenuhi syarat operasional mesin. Setelah lolos uji, bahan bakar dikemas dalam botol dan drum industri siap distribusi.

Dari setiap hektare sawah, proses ini mampu menghasilkan hingga 3.000 liter bahan bakar nabati. Selain menghasilkan energi, limbah sisa produksi dimanfaatkan kembali menjadi pakan ternak dan pupuk organik.

Bobibos tidak hanya menciptakan energi bersih, tetapi juga memberi nilai ekonomi tambahan bagi sektor pertanian.

Posting Komentar

Iklan